Program Studi Pendidikan Fisika STKIP Bima Juarai Lomba TGT Kota Bima

Bappedalitbang Kota Bima mengadakan lomba TGT (teknologi Tepat Guna) dalam rangka peringatan hari ulang tahun Kota bima tahun 2019, dalam ivent tersebut, team STKIP Bima dari jurusan Program Studi Pendidikan Fisika mengusul dua karya inovasi, yaitu Pembangkit Listrik Sistem Daur Ulang yang dikembangkan oleh Muhammad Subhan, M.Pd dan Robot Pengangkut Sampah Ramah Lingkungan Sederhana yang dikembangkan oleh Mahasiswa Fisika yaitu Furqan dan teamnya. Lomba TGT tingkat Kota Bima ini diikuti oleh 9 peserta terdiri dari kalangan masyarakat umum, Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi yang ada di Wilayah Bima yang telah lolos seleksi lapangan dilakukan oleh team seleksi dari Bappedalitbang Kota Bima. Selanjutnya, dilakukan penilaian atau dipresentasikan didepan para juri yang diadakan di halaman bappeda litbang pada tanggal 15 April 2019 untuk menunjuk sebagai juara. Dari hasil lomba tersebut Team STKIP Bima dari Jurusan Program Studi Pendidikan Fisika Keluar sebagai Juara, juara I Oleh Muhammad Subhan, M.Pd dengan karya inovasinya “Pembangkit Listrik Sistem Daur Ulang” sedangkan Furqan dan Team mahasiswa mendapat juara harapan dua, sehingga Program Team STKIP Bima di tunjuk oleh Bappeda Litbang Kota Bima untuk mewakili lomba TGT tingkat provinsi yang insyaalla direncanakan akan di laksanakan pada bulan Juli atau Agustus di Lombok Timur. Muhammad Subhan sendiri menyatakan “Merupakan motivasi untuk ke depan karena Program Studi Pendidikan Fisika dipercaya sebagai mewakilli Kota Bima untuk ajang berikutnya dan mengembangkan lagi inovasinya, harapan terbesar adalah bisa dipatenkan sehingga bisa bermanfaat untuk masyarakat umum.

Penentuan Pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) STKIP BIMA

Hari sabtu 4 mei 2019 merupakan tahap akhir penentuan pemenang lomba karya tulis ilmiah (LKTI) yg diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi.

Lomba ini mengusung tema meningkatkan kreativitas mahasiswa abad 21 untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Kegiatan yang ditujukan untuk semua mahasiswa di lingkungan STKIP Bima ini diikuti oleh 15 tim dari 7 program studi. hanya 5 tim yang berhasil lolos pada tahap akhir yaitu presentasi di dengan dewan juri yakni Bapak Muh. Nasir, M.Pd (LPPM STKIP Bima) dan Nikman Azmin, M.Si dosen program studi pendidikan Biologi.

“LKTI perdana ini harapannya bisa terus diadakan di tiap tahun nya, agar menumbuhkan semangat dan kemauan mahasiswa dalam menulis” ujar dosen pembina HMPS Pendidikan Biologi Ibu Ariyansyah, M.Sc.

Sementara itu ketua HMPS PB periode 2018/2019 Zakaria mengatakan bahwa “kegiatan ini merupakan salah satu program kerja yang telah disusun bersama oleh seluruh pengurus HMPS dan Alhamdulillah bisa kami realisasikan walaupun masih banyak kekurangan disana sini. Terimakasih kepada prodi yang telah memberikan support Material demi mensukseskan kegiatan ini serta seluruh panitia yang berpartisipasi yang diketuai oleh Edison”

LKTI tahun 2019 dimenangkan oleh tim Dumari prodi Biologi yang mendapatkan penghargaan sebagai pemenang pertama dengan karya : hempas penyakit kuning dengan tanaman saga. Pemenang kedua Tim dari Prodi Kimia: Novriyanti Putri dan yang ketiga tim dari prodi Biologi atas nama Nurhayati.

Ketua prodi Biologi Bapak Olahairullah, M.Pd berharap tim yang ikut lomba LKTI ini bisa berkompetisi di tingkat nasional, misalnya ikut pada kompetisi PKM.

Peningkatan Produksi Kopi Tambora Melalui Pengolahan Tradisional Oleh Mahasiswa STKIP BIMA Di Desa Oi Bura

Tambora tidak hanya dikenal dengan letusan dahsyatnya, namun kaya akan pesona dan komodii andalan yang sangat penting bagi pengembangan sosial ekonomi, pariwisata dan budaya serta sektor lainnya. Salah satu komoditi andalan di lereng Tambora adalah Kopi Tambora. Sejak Zaman Kolonial Belanda, banyak orang-orang Jawa yang dipekerjakan di areal perkebunan Kopi Tambora. Sehingga tidak mengherankan jika nama camp-camp di areal ini bernuansa Jawa seperti Afdelin Sumber Rejo dan Afdelin Sumber Urip.

Perkebunan Kopi Tambora adalah kawasan perkebunan kopi yang terletak di lembah bagian Utara Gunung Tambora pada ketinggian tempat 1.200 meter dari permukaan laut. Merupakan Lahan Hak Guna Usaha (HGU) seluas 500 Ha. Dari luas tersebut baru 254 Ha, Besaran Ha dan Jembatan Besi 18 Ha, sedangkan 246 Ha masih dalam keadaan kosong. Selain tanaman kopi juga di lengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang seperti Bangunan prosesing 1 unit, lantai jemur 5 unit, perkantoran 1 unit, sarana ibadah 1 unit,sarana pendidikan 1 unit dan perumahan karyawan 31 unit.

Pada awalnya perkebunan Kopi Tambora di kelola oleh PT. Bayu Aji Bima Sena (PT.BABS) Jakarta selaku pemegang Hak Guna Usaha (HGU) sesuai keputusan Mentri Dalam Negeri Nomor : 21/HGU/DA/77 tanggal 19 juni 1977 dengan memperkerjakan karyawan sebanyak 192 orang, namun sejak tahun 2001 PT. BABS tidak aktif lagi  mengelola kebun kopi tambora yang ditandai dengan ditinggalkan dan ditelantarkannya perkebunan kopi beserta aset dan karyawan yang ada di dalam nya. HGU PT. BABS berakhir pada tanggal 31 Desember 2001 dan tidak diperpanjang lagi sampai saat ini meskipun pihak PT. BABS pernah mengajukan perpanjangan HGU pada tanggal 8 maret 2002.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bima Ir. Heru Priyanto menemukakan , sejak tahun 2002 Pengelolaan Perkebunan Kopi Tambora diambil alih oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bima (melalui Dinas Perkebunan Kab.bima)  dalam rangka penyelamatan asset perkebunan dan karyawan agar tidak hilang mata pencahariannya. Biaya pengelolaan kebun kopi tambora bersumber dari APBD Kab. Bima dan APBN. Pada saat pengambilan alihan keadaan perkebunan. Kopi Tambora sangat memperihatikan. Tanaman Kopi yang produktif hanya 80 Ha dari luas tanaman 254 Ha. Produktif kopi hanya sekitar 150 kg per hektar. Terjadi penjarahan hasil produksi kopi oleh masyarakat sekitar. Tuntutan biaya hidup oleh karyawan yang ditelantarkan PT.BABS. Sedangkan Karyawan yang bertahan hanya tinggal 63 orang.

Hal ini lah yang membuat mahasiswa STKIP Bima terasa terpanggil untuk mengimplementasikan tri darma perguruan tinggi melalui pengabdian masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang saat ini terjadi di kawasan perkebunan kopi tambora. Dengan luas lahan yang bergitu besar ±500 Ha, dan keahlian tradisional sebagai kekayaan intelektual belum dilihat sebagai potensi pengembangan masyarakat dan pembangunan oleh stakeholder. Oleh karena itu mahasiswa STKIP Bima melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP Bima mencoba menberikan solusi terhadap maslah tersebut dengan menawarkan satu program PHBD dari Kemerinstekdikti untuk meningkatkan produktifitas kopi melalui pengembangan kahlian tradisional masyarakat dalam mengolah kopi. Langkah-langkah yang akan dilakukan antara lain

  1. Memilih Biji Kopi Berkwalitas yaitu Biji kopi dipilih dan di petik langsung dari pohon, Ciri ciri kopi dengan kwalitas terbaik adalah :
  2. Berwarna merah matang ranum, tidak terdapat burik/ kusam/ luka/bekas kotoran hama yang menempel.
  3. Berkuran standar dan rata, tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar.
  4. Kopi yang sudah mtang cenderung memiliki kulit yang lunak.
  5. Memiliki rasa yang manis.
  6. Kopi Harus Di Sortir

Menyotir ini dilakukan untuk memisahkan biji kopi yang masih mentah atau hijau, memiliki kwalitas yang kurang bagus sekaligus membersihkan kotoran yang menempel pada kopi.

  1. Penjemuran Dan Pengupasan

Penjemuran biasanya dilakukan hanya dalam waktu singkat, yakni antara 3 sampoai 5 hari, tujuannya hanya agar proses pengupasan lebih mudah dilakukan. Sekarang ini Pengupasan biasanya sudah dilakukan dengan menggunakan alat pengupas kopi.

2. Pengeringan

Pengeringan dilakukan untuk menghilangkan kandungan air yang terdapa dalam biji kopi, penjemuran dilakukan sesuai dengan kebijakan atau permintaan konsumen.

3. Pemanggangan Atau Penyangraian

Pemanggangan atau istilah desangnya Sangrai yaitu merupakan sebuah proses dimana kopi di panggan/digoreng tanpa minyak, biasanya menggunakan bahan tambahan seperti beras atau ketan.

4. Penggilingan

Proses ini bisa dilakukan dengan bantuan alat penggiling kopi yang sudah banyak di temui. Biasanya pada proses ini juga dilakukan proses pembungkusan, penimbangan dan juga pengepakan.

 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Terpadu (KKN-MT) STKIP BIMA Angkatan XXX menggelar Bakti sosial dikuburan Desa Tumpu, kecamatan Bolo

Kegiatan ini bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai sarana aktualisasi diri mahasiswa untuk membantu sesama dan mempererat hubungan kekeluargaan antara mahasiswa STKIP BIMA dengan Masyarakat desa Tumpu.

Pemerintah desa tumpu turut hadir dan memantau serta mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Kami mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih banyak kepada adik-adik mahasiswa lebih Khususnya kepada Lembaga STKIP BIMA yang sudah memberikan kontribusi untuk lingkungan Desa kami”. Ungkap Muhammad Ikhsan Selaku Sekertaris Desa Tumpu.

MAHASISWA KKN-MT STKIP BIMA ADAKAN KEGIATAN LOMBA ANAK ISLAMI

Peningkatan motivasi dan semangat belajar anak bisa dilihat dalam kegiatan lomba anak islami ini. Walaupun pada kenyataannya sudah banyak TPQ yang didirikan di Desa Campa tidak mengurangi semangat anak untuk menimgkatka nilai keagamaan, itu bisa dilihat dari banyaknya jumlah peserta yang ikut serta dalam ajang perlombaan tersebut dan jumlah pesertanya mencapai 200 peserta. Tidak hanya itu animo masyarakat dalam mendorong anaknya untuk tampil dan ikut berpartisipasi sangatlah tinggi. Dengan adanya momentum seperti ini mengasah dan mendorong kembali kemampuan dan Keinginan anak lebih2 orang tuanya untuk menampilkan diri.
Walaupun penghargaan yang di berikan terbadap anak sederhana tetapi dalam acara penutupan ini bisa dilihat keinginan anak sangat tinggi untuk mendapatkan penghargaan.
Ucapan terima kasih kami dariahasiswa KKN-MT STKIP BIMA Angkatan XXX Desa Campa kepada elemen masyarakat yang sudah berpartisipasi dan bekerja sama dengan kami, tanpa adanya kalian kegiatan lomba anak islami ini tidak akan semeriah seperti ini sampai dengan penutup kegiatan.