Reposisi Peran Mahasiswa sebagai Mediator Advokasi dalam Program Kampus Mengajar di SMP Islam Bina Insani Susukan

  • Muhammad Alfian Lazuardi sosiologi
Keywords: Kampus Mengajar, Mediator Advokasi, Reposisi Peran Mahasiswa

Abstract

Penelitian ini mengkaji reposisi peran mahasiswa dalam Program Kampus Mengajar di SMP Islam Bina Insani Susukan, dengan fokus pada transformasi peran mahasiswa dari sekadar pendukung pembelajaran menjadi mediator advokasi. Latar belakang penelitian ini adalah adanya ketimpangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan di Indonesia, di mana data BPS 2023 menunjukkan hanya 27,98% penduduk pedesaan berusia 15 tahun ke atas yang menyelesaikan pendidikan menengah, dibandingkan 49,16% di perkotaan (data.goodstats.id, 2023). Program Kampus Mengajar yang diluncurkan pemerintah melalui Kemendikbudristek sebagai bagian dari inisiatif Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) bertujuan untuk mengatasi kesenjangan ini dengan melibatkan mahasiswa dalam mendukung pendidikan dasar dan menengah (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi et al., 2023). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di SMP Islam Bina Insani Susukan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan mahasiswa peserta program, guru, kepala sekolah, dan siswa, serta analisis dokumen program. Kerangka teori yang digunakan meliputi Teori Ekologi Perkembangan Bronfenbrenner (Bronfenbrenner, 1979)untuk memahami interaksi mahasiswa dalam berbagai sistem lingkungan sekolah, Teori Interaksionisme Simbolik Blumer untuk menganalisis makna dan interpretasi peran mahasiswa, dan Teori Partisipasi Pembangunan Cohen & Uphoff  (Cohen & Uphoff, 1980)untuk memahami keterlibatan mahasiswa dalam proses pendidikan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dalam Program Kampus Mengajar mengalami reposisi peran yang signifikan. Mereka tidak hanya berperan sebagai asisten pengajar, tetapi berkembang menjadi mediator advokasi yang aktif mengidentifikasi kebutuhan siswa, merancang intervensi berbasis masalah nyata, dan memfasilitasi komunikasi antara berbagai stakeholder pendidikan. Proses reposisi ini terjadi melalui tiga tahap: (1) adaptasi awal dengan observasi dan identifikasi masalah, (2) transformasi peran melalui inisiatif kreatif dan inovatif, dan (3) konsolidasi sebagai mediator advokasi yang menghubungkan kebutuhan siswa dengan sumber daya yang tersedia. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman implementasi kebijakan pendidikan di tingkat akar rumput dan memberikan wawasan tentang dinamika peran mahasiswa dalam program pemberdayaan pendidikan. Implikasi praktis penelitian ini adalah perlunya pengakuan formal terhadap peran mahasiswa sebagai mediator advokasi dalam desain program serupa, serta pengembangan mekanisme dukungan yang memadai untuk memfasilitasi transformasi peran tersebut. Rekomendasi penelitian meliputi perlunya pelatihan khusus bagi mahasiswa tentang keterampilan advokasi, pengembangan indikator evaluasi yang mencakup aspek mediasi advokasi, dan penguatan koordinasi antara perguruan tinggi dengan sekolah mitra dalam mendukung peran baru mahasiswa ini.

 

Kata Kunci: Kampus Mengajar, mediator advokasi, reposisi peran mahasiswa, pendidikan dasar, MBKM, ketimpangan pendidikan

References

Ardiansyah, A., & Tuti, R. W. (2023). Peran Mahasiswa Dalam Peningkatan Literasi Dan Numerasi Di Sd Islam Asy-Sarkowi. Pentahelix, 1(1), 15.

Blumer, H. (2020). Symbolic interactionism: Perspective and method. University of California Press.

Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.

Cohen, J. M., & Uphoff, N. T. (1980). Participation’s place in rural development: Seeking clarity through specificity. World Development, 8(3), 213–235. https://doi.org/10.1016/0305-750X(80)90011-X

data.goodstats.id. (2023). Ketimpangan Pendidikan Desa dan Kota Masih Tinggi, Penduduk Desa Didominasi Tamatan SD.

Deybi Debora Palit Femmy M.G Tulusan Novie Palar. (2022). Implementasi Program Bantuan Dana Dan Sembako Bagi Masyarakat Terdampak Covid-19 Di Desa Kaasar Kecamatan Kauditan.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, P., Pendidikan, K., Teknologi Katalog Dalam Terbitan Kementerian Pendidikan (2023). Laporan Program Kampus Mengajar. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Isnaini Amirotu N. (2023). Pengertian, Tujuan Focus Group Discussion (FGD) dan Tahapannya.

Lazuardi, M. A. (2024.). Laporan Akhir Mahasiswa Program Kampus Mengajar Angkatan 8 Tahun 2024 Disusun Oleh.

Novika Regita. (2025). Mengenal Program MBKM Kampus Mengajar.

Pendidikan, K., Kebudayaan, D., Penelitian, B., Pengembangan, D., Penelitian, P., & Pendidikan, K. (2018). model pendidikan daerah 3t berbasis kearifan lokal.

Pusat Asesmen Pendidikan. (2025). Asesmen Kompetensi Minimum.

Rahman, B., korespondensi, A., Sumantri Brojonegoro No, J., & Lampung, B. (2024.). Refleksi Diri Dan Peningkatan Profesionalisme Guru. 3 (2): 22-34

Safaringga, V., Lestari, W. D., & Aeni, A. N. (2022). Implementasi Program Kampus Mengajar untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 3514–3525. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2667

Sari, D. N., Suwandana, E., Provinsi, B., Tengah, J., Daerah, B., & Banten, P. (2024). Kemiskinan, Ketimpangan Dan Pandemi: Realita Di Jawa Tengah. In Jurnal Ilmiah Populer Media Edukasi Data Ilmiah dan Analisis (Vol. 7).

Songhori, M. H. (n.d.). Introduction to Needs Analysis. www.esp-world.info

Vera Nurfajriani, W., Ilhami, M. W., Mahendra, A., Sirodj, R. A., Afgani, W., Negeri, U. I., Fatah, R., & Abstract, P. (2024). Triangulasi Data Dalam Analisis Data Kualitatif. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(17), 826–833. https://doi.org/10.5281/zenodo.13929272

Yusmar, F., & Fadilah, R. E. (2023). Analisis Rendahnya Literasi Sains Peserta Didik Indonesia: Hasil Pisa Dan Faktor Penyebab. Lensa (Lentera Sains): Jurnal Pendidikan IPA, 13(1), 11–19. ht

Published
2025-12-18