BEM STKIP Bima Partisipasi Dalam Kegiatan Bersih Pantai Kota Bima Untuk Memperingati hari Nusantara 2018

Dosen Lingkungan dan pengurus BEM STKIP Bima berpartisipasi dalam kegiatan Pembersihan Pasar dan Pantai Amahami yang diselenggarakan oleh Pemerintah kota Bima pada Jum’at, 30 November 2018.

Keikut sertaan Dosen dan pengurus BEM STKIP Bima dalam kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen civitas Akademika STKIP Bima, membantu pemerintahan Kota Bima dalam wujudkan kota Bima yang bersih, nyaman dan indah.

Pasar Amahami merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat kecil dan menengah harus bersih dari sampah, agar pedagang dan pembeli di pasar tersebut merasa nyaman dan betah dalam melakukan transaksi.

Begitu pula dengan pantai Amahami sebagai tempat rekreasi masyarakat kota dan kabupaten Bima. Kami dari civitas akademika STKIP Bima bersedia untuk mendukung dan berpartisipasi pelaksanaan pembangunan kota Bima, terutama dalam membangun budaya hidup bersih dan pelestarian lingkungan hidup agar kota Bima tidak menjadi kota yang kumuh.

Kami sangat mengapresiasi kebijakan Bapak Walikota Bima H. Muhammad Lutfi,SE dan Wakil Walikota Bima Fery Sofyan, SH yang melibatkan Perguruan Tinggi dalam pelaksanaan pembangunan. Mudah-mudahan dengan keterlibatan dosen dan mahasiswa menjadi faktor pendorong percepatan pembangunan kota Bima.

HMPS-PS STKIP BIMA Galang Bantuan Untuk Korban Tsunami Palu

Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi (HMPS-PS) Melakukan Kegiatan Penggalangan Dana untuk korban bencana Alam Tsunami di PALU SULAWESI TENGAH yang dilakukan oleh bidang KEROHANIAN HMPS-PS STKIP BIMA, kegiatan yang berlangsung dalam kurun waktu 3 hari dan mampu mengumpulkan Dana sebesar Rp. 7.500.000,00, alhamdulillah kegiatan ini sukses sampai pada titik pengiriman oleh pengurus HMPS-PS STKIP BIMA dan diterima oleh pengurus HIMASOGI di PALU.

 

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) PRODI. KIMIA STKIP BIMA Produksi Garam Beryodium Melalui Solartermal Salt House (STSH)

Produksi garam beryodium di tingkat petani saat ini masih sangat jarang dilakukan. Padahal garam yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu mengandung yodium sekitar 30-80 ppm. Berbagai usaha yang dilakukan untuk mencukupi kebutuhan yodium dalam garam yaitu dengan menambahkan larutan Kalium Iodida (KIO3) pada butiran garam atau dalam larutan garam. Produksi pembuatan garam beryodium selama ini hanya dilakukan oleh perusahaan garam menggunakan teknologi mesin sehingga biaya produksinya mahal. Selain itu, produksi garam beryodium juga dilakukan dengan proses rekristalisasi garam melalui pemanasan menggunakan tungku api sehingga membutuhkan biaya produksi yang lebih besar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Tim Dosen dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) STKIP Bima telah melakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Tim Dosen yang terlibat dalam kegiatan PKM ini adalah Agripina Wiraningtyas, M.Sc dari Prodi Pendidikan Kimia selaku ketua pelaksana, Ruslan, M.Sc dari Prodi Pendidikan Kimia (anggota) dan Ahmad Sandi, M,Si dari Prodi Pendidikan Ekonomi (anggota). Program kemitraan masyarakat (PKM) ini merupakan hibah pengabdian pada mayarakat dari Kemenristekdikti tahun anggaran 2018.

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memproduksi garam beryodium melalui inovasi Solartermal Salt House dalam meningkatkan produksi dan produktivitas lahan tambak garam dengan biaya murah dan berkelanjutan. Metode yang digunakan yaitu pada teknik kristalisasi garam dihasilkan garam berukuran kecil kemudian dicuci dengan brine untuk menghilangkan pengotor sehingga diperoleh kristal garam yang putih mengkilat. Kristal yang diperoleh selanjutnya dikeringkan dalam solar termal salt house (STSH) agar terlindung dari dari polusi dan partikel debu. Kristal garam yang telah kering kemudian disortir menggunakan penyaring untuk mendapat ukuran kristal yang seragam dan tahap berikutnya adalah iodisasi dan pengemasan. Garam beryodium yang telah dikemas selanjutnya dijual dengan harga Rp. 1.000,00 perbungkus dengan berat 250 gram. Berdasarkan hasil perhitungan, bahwa hasil penjualan garam beryodium sebanyak 1 karung atau seberat 50 kg yaitu sebesar Rp. 186.876 sedangkan harga penjualan garam kasar sebanyak 50 kg atau 1 karung yaitu seharga Rp. 50.000, sehingga keuntungan yang diperoleh petani garam apabila memproduksi garam beryodium akan terjadi peningkatan sebesar 400%.